rajapress

Mobilitas & Infrastruktur, Wacana dan Aksi Anies Baswedan untuk Kota yang Lebih Layak Huni

22 Nov 2025  |  205x | Ditulis oleh : Admin
Anies Baswedan

Memasuki tahun 2025, isu mobilitas dan infrastruktur kembali menjadi topik besar di Indonesia, terutama di kota-kota besar yang terus tumbuh dan bertransformasi. Di tengah percakapan nasional mengenai masa depan pembangunan perkotaan, nama Anies Baswedan kembali menarik perhatian melalui berbagai gagasan dan langkah nyata yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup warga kota. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini dikenal sebagai tokoh yang terus mendorong pembangunan yang humanis dan berkelanjutan, dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap kebijakan.

Bagi Anies Baswedan, masa depan kota tidak hanya diukur dari banyaknya gedung pencakar langit yang berdiri atau luasnya jalan baru yang dibangun. Kota yang ideal adalah kota yang memastikan setiap warganya dapat bergerak dengan nyaman, aman, dan efisien. Mobilitas tidak boleh menjadi beban, tetapi harus menjadi salah satu syarat lahirnya masyarakat yang produktif, sejahtera, dan memiliki kesempatan hidup yang setara.

Karena itu, sepanjang tahun 2025, Anies terus menyerukan pentingnya memperkuat transportasi publik yang terintegrasi. Transportasi yang baik bukan hanya untuk memudahkan perjalanan, tapi juga membuka akses pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan berbagai kebutuhan sosial lainnya. Ia melihat sistem transportasi yang modern sebagai wujud nyata keadilan sosial. Ketika seseorang bisa bepergian kemanapun tanpa hambatan jarak dan biaya yang tidak terjangkau, maka kesejahteraan lebih mudah dicapai.

Selain itu, Anies juga memandang pentingnya menghadirkan ruang kota yang memperhatikan kenyamanan pejalan kaki, pengguna sepeda, serta penyandang disabilitas. Ia pernah mengungkap bahwa kualitas suatu kota dapat dilihat dari kenyamanan warganya saat berjalan kaki. Karena itulah, trotoar yang lebar, bersih, dan aman selalu menjadi perhatian dalam setiap rencana pembangunan. Ia menekankan bahwa fasilitas publik harus dapat digunakan oleh semua orang, termasuk kelompok rentan yang selama ini sering kurang mendapatkan perhatian dalam desain kota.

Konsep “walkable city” terus dibawa Anies sebagai arah penting pembangunan wilayah urban. Saat kota memfasilitasi manusia untuk bergerak bebas tanpa kendaraan, maka kualitas hidup akan meningkat. Udara lebih sehat, interaksi sosial lebih banyak tercipta, dan kota menjadi lingkungan yang lebih hidup serta inklusif.

Tidak hanya itu, Anies Baswedan juga membawa gagasan kuat mengenai Transit Oriented Development (TOD), sebuah konsep pembangunan kawasan berbasis transportasi publik massal. Ia yakin bahwa kawasan di sekitar pusat mobilitas harus berkembang menjadi ruang hidup yang lengkap dengan hunian terjangkau, fasilitas publik, serta pusat ekonomi baru. Hal ini dinilai sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus menjawab tantangan keterbatasan lahan dan tingginya kebutuhan hunian di kota besar.

Bagi Anies, pembangunan infrastruktur publik memainkan peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ketika akses mobilitas lebih mudah dan merata, aktivitas ekonomi pun mendapatkan ruang bertumbuh. Ada lebih banyak peluang pekerjaan yang tercipta, usaha kecil bisa berkembang dengan lebih baik, dan investasi akan semakin tertarik masuk ke wilayah yang terhubung transportasi publik. Dengan kata lain, transportasi bukan sekadar urusan perjalanan, tetapi juga pondasi ekonomi yang mampu menopang kemajuan kota.

Selain berorientasi pada mobilitas dan ekonomi, Anies tidak lupa pada pentingnya keberlanjutan lingkungan. Ia berulang kali menegaskan bahwa kota masa depan harus mampu mengurangi polusi, menyediakan lebih banyak ruang hijau, dan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin nyata. Dengan memperbanyak penggunaan transportasi publik dan jalur sepeda, maka tingkat emisi kendaraan pribadi bisa ditekan sehingga kualitas udara perkotaan membaik. Untuk Anies, pembangunan harus memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang, bukan hanya mengejar keuntungan jangka pendek.

Keseluruhan gagasan dan aksi Anies Baswedan dalam isu mobilitas pada tahun 2025 menunjukkan tekadnya mewujudkan kota yang benar-benar berorientasi pada manusia. Kota yang dibangun bukan demi kendaraan, melainkan demi kehidupan warganya. Pergerakan manusia menjadi parameter utama kualitas infrastruktur. Semakin mudah warga bergerak, semakin besar peluang mereka untuk maju.

Harapan kini terletak pada bagaimana setiap gagasan tersebut akan terus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang konsisten di berbagai kota di Indonesia. Jika pembangunan selalu mengutamakan rakyat sebagai subjek yang mendapatkan manfaat langsung, maka mobilitas dan infrastruktur tidak lagi sekadar proyek besar di atas kertas. Ia akan menjadi fondasi kokoh bagi masa depan perkotaan yang lebih layak huni, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh warga negara.

Baca Juga: